Halaman Kosong (III)

(Ironi dan kebenaran dan cinta)

 

“Ironi” bukan nama artis. Apalagi nama seorang kiai yang punya sejuta umat. Ia hanya sesuatu yang sederhana. Ia memiliki saudara kandung bernama “ironis” yang senantiasa setia mewakili kehadirannya. Ironi senantiasa datang membawa kegetiran. Dan memaksa sekelilingnya menerima keapaan-keadaan. Begitu sempurna dalam karya yang dramatis fantastis. Jauh lebih dramatis daripada pemunculan imaji masa lalu dari Titanic, atau juga modernisasi kisah klasik Romeo & Juliet.

 

Aku sempat bertanya-tanya, apakah ironi bagian dari kebenaran, ataukah kebenaran adalah ironi? Suatu saat aku memperoleh pemahaman bahwa ironi adalah ironi dan kebenaran adalah kebenaran. Ironi tidak hadir pada saat kebenaran datang bahkan jika kebenaran itu datang bersama kepahitan.

 

Dan aku curiga bahwa ironi terbesarku adalah keangkuhanku akan sebuah kebenaran dari sebuah keyakinan mengalami kegamangan karena hantaman nilai-nilai yang lahir dari keyakinan tadi. Dan aku lelah sekali menempuh perjalanan itu. Bahkan untuk menangispun aku sudah tidak punya kemampuan.

 

Hidup harusnya bergejolak dalam gelombang kerumitan ketika dipikirkan dan berhembus di antara angin kesederhanaan ketika dijalani untuk kemudian menuju pada puncak kesempurnaan ketika sampai pada titik kematian. Seperti juga persoalan cinta yang sebenarnya sangat sepele bagaimanapun rumitnya orang tenggelam dalam lautan itu. Persoalan cinta adalah suatu hal. Titik. Tapi, cinta adalah sesuatu yang besar, agung dan suci. Yang aku belum mengerti adalah bagaimana menjalankan cinta. Bagaimana berpikir dengan cinta. Bagaimana mencintai dengan cinta.

 

Terkutuklah orang-orang yang mencari atau mengejar cinta karena cinta tak bisa dimiliki sebagaimana cinta tak bisa diperjualbelikan. Cinta adalah sebuah kebenaran dan kebenaran patut dicintai. Dan aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa mungkin aku tidak pernah punya cinta selama ini. Maka relakanlah aku kawin pada umur 30-an dan senyumlah pada kematianku di usia 40-an. Tapi aku sendiri ragu punya kemampuan untuk itu karena aku sudah lama mati jauh sebelum aku hidup.

 

Aku hanya punya sedikit sisa kekuatan untuk menjadi lilin. Tubuh lilinku tidak sekuat obor yang membawa api pon. Cahaya lilinku tidak segemerlap danseterang cahaya api pon. Atau aku mungkin tak pantas untuk menjadi lilin.Aku bahkan tak memiliki kehormatan seekor kunang-kunang.  Aku mudah menguap, jauh lebih cepat dibandingkan embun di pagi hari.

 

Hitam adalah sebuah nilai sebagaimana putih adalah sebuah vonis. Yang lain berbaris dengan segala pemaknaan dan atau pembenaran. Tapi, kebenaran bisa datang dari siapa saja atau lewat apa saja. Kebenaran tidak terikat pada ada dan tiada. Aku ada karena aku ada. Aku tiada karena aku tiada. Ke-”ada”-anku tak berdimensi. Ke-”tiada”-anku tidak bermakna. Maka aku bukan kebenaran. Aku hanya sebuah kehampaan. Serpihan-serpihan kegelisahan yang tak pernah terwujud. Maka jangan bandingkan aku dengan seorang maestro yang mewujudkan masterpiece-nya dari goresan-goresan dan sapuan-sapuan.

 

Aku toh tak bisa menolak untuk di-”ada”-kan demi menjaga keseimbangan mayapada. Pen-”tiada”-anku pun hanya bagian kecil dari proses itu. Mungkin juga tidak. Karena, eksistensiku bukan sesuatu yang esensial. Maaf, aku bukan pesimis, aku hanya cenderung menolak kemapanan, yang terkadang juga
sempat, terpaksa, atau memang ingin menikmati kemapanan. Dan kekosongan bukan hal yang asing bagiku.

 

Aku adalah ironi.

 

dari ceceran arsip, juli ‘98

Leave a Reply

burung