(Menjelang purnama berikutnya tatkala wajahmu mulai bermetamorfosis)
Duduk merenung beralaskan hamparan hijau yang tak rata
pohon-pohon besar berdaun lebat membisu dalam kekokohannya
sungguh tak pernah kusangka
halaman ini tumbuh sangat cepat
padahal aku yakin aku tidak tidur terlalu lama
atau memang aku yang tak pernah sempurna dalam pemahaman
adalah kesedihan yang mendalam
memikirkan kemungkinan bahwa selama ini aku tak pernah dilibatkan dalam proses komunikasi
mungkin juga aku ceroboh telah mengabaikan bibit-bibit itu
kini mereka semakin banyak
semakin kuat
semakin tinggi
dan berlomba-lomba mencapai langit
sementara mosaik raksasa itu tetap tergantung di sana
tahukah kau bahwa wajah agung itu mulai menangis?
Hujan
garis-garis panjang yang tetap setia menyambung kehidupan
ia lahir dari proses transformasi mutiara air mata
turun membawa amanat suci menumpang kereta sederhana dengan jendela kaca yang jernih
bahkan kedatangannya dilindungi payung hitam raksasa untuk mencegah kubah pengolah helium menguraikan kristal murni itu sebelum waktunya
tapi entah mengapa
terkadang kesadaran yang terhempas memaksanya menjadi bencana
maka air mata kembali berlinangan
dengan nuansa kesedihan yang menyayat
pekat memenuhi relung hati
sampai titik nadir dimana mata tak punya apa-apa lagi untuk diteteskan
dan kata-kata menolak menari di ujung lidah
sampai sudah aku pada puncak kebutuhanku akan kehadiranmu secara utuh
dan cukup
aku tidak meminta yang lebih
dengan sendirinya kau akan mengerti proses selanjutnya yang akan aku jalani untuk mengusir segala ketidakpastian dalam menghadirkan harapan
karena kenyataan adalah hasil dari pengelolaan harapan bagi mereka yang punya kemauan
dan resiko adalah bonus yang menantang bagi mereka yang rela melangkahkan kaki
tahukah engkau bahwa aku sering menangis untukmu?
Sempat aku tangkap sekilat isyarat perubahan
tapi sejak awal tabir keraguan telah membayangi
sementara aku tetap mencoba untuk melangkahkan kaki di dua sisi yang berbeda
aku bahkan terpaksa berjalan dengan satu kaki ketika aku merasakan bahwa kaki yang lain mulai meninggalkan pijakannya
aku sama sekali tidak menyalahkanmu
lihatlah kearahku
kau tak akan bisa melihat bayanganku saat ini
bilur-bilur cahaya matahari yang berada tepat di atas kepalaku bagaikan pasungan jeruji besi yang tak memberi aku ruang gerak sama sekali
percayalah
aku rela menjalani hukuman ini
tak perlu menangis untukku
sudah terlalu banyak air mata yang mengalir sia-sia
dan suatu saat kesia-siaan hanya masa lalu
setiap butir yang kau titikkan akan mampu menawarkan kepahitan dan menghilangkan jejak goresan yang tertinggal
ini hanya saat-saat dimana aku tidak memerlukan perlawanan
tapi kepasrahanku bukan berarti penyerahan
tahukah kau bahwa aku siap menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu?
Perjalanan
rangkaian peristiwa dalam suatu garis panjang
ketika peristiwa adalah jalinan perjalanan untuk menyambungkan titik-titik kemanusiaan
untaian benang yang tergantung di langit
datang dari masa lalu yang siap mengikat apa saja yang menyatakan dirinya sebagai makhluk
meliuk cepat di permukaan bumi yang memantulkan gelombang terpendek cahaya tunggal kehidupan
samar di kejauhan
sepotong wajah pucat bergerak ragu
gelisah dalam penantian proses pengosongan tahta
dia sangat memahami tak lama lagi kekelaman akan membantunya mencapai puncak kekuasaan
yang tak mereka pahami bahwa pergantian ini hanya sekedar bagian dari
rutinitas keseimbangan dimana keutuhan adalah harga yang tak bisa ditawar-tawar
seperti juga dirimu yang selama ini menjadi bagian dari keseimbangan dunia yang aku diami
senantiasa menghadirkan bayanganmu dalam imaji yang tak pernah tersentuh hembusan realita
berputar bersama kincir kebingungan dan ketakutan
sementara stabilisasi seolah enggan mencapai puncaknya
sempurna sudah kegelisahanku memandang sabit cahaya yang menampilkan citra dirimu dalam bentuk yang berbeda-beda
keterbatasan daya pikirku melengkapi kegagapanku mengolah informasi untuk menjawab apa yang sedang terjadi pada dirimu
tapi sebenarnya semua menjadi jelas
pemihakan adalah awal dari segalanya
yang kau sajikan adalah pantulan frekuensi yang bias dalam perjalanannya
bobot interaksi memancarkan gelombang yang mengalami perubahaan amplitudo di sana-sini
dan kelemahan ini adalah hal yang harus diakui
karena kematanganku telah dihancurkan oleh kebanggaan yang salah kaprah
rasa yang kujaga selama ini megap-megap oleh tatapanmu yang penuh harapan
menambah kepedihan luka yang tergores kepergianmu
menemani ketakutan akan kehilangan dirimu
aku tahu kau belum lupa bahwa metamorfosis adalah hak kupu-kupu
maka kembalilah pada kesahajaanmu yang dulu menuntunku untuk memulai langkah pertama
karena aku khawatir tak mampu lagi melihat pepohonan yang mulai kering karena ditinggalkan daunnya sambil menunggu saat terakhir ketika sang akar tak mampu lagi menyedot sari-sari makanan dalam tanah
bersabarlah
masih ada waktu untuk mengganti pohon-pohon hiasan itu dan mengembalikan
keindahan yang kita patri dengan ketulusan
tahukah engkau bahwa pohonku makin bercabang?
tapi aku tetap menunggumu
di sini di purnama berikutnya
dari ceceran arsip, juni ‘98
Berbagi