Mata Hati - Iwan Fals

September 4th, 2008

Lagu Iwan Fals yang satu ini sangat sederhana, minim kata, musik yang mengiringi pun hanya gitar akustik dan harmonika. Tapi entah kenapa, lagu ini sangat berkesan. Salah satu lagu Iwan Fals yang sangat saya favoritkan.

Mata Hati

Dalam kusendiri
coba mengerti
perjalanan ini
tak terasa
di sini

Aku di sampingmu
begitu pasti
yang tak kumengerti
masih saja
terasa sepi

Matahari yang beranjak pulang
tinggal jiwa tersisa di jiwa
bintang-bintang menyimpan kenangan
kita diam tak bisa bicara

Hanya mata
hanya hati
hanya kamu
hanya aku

Apa lagi

Juni 9th, 2008

Apalagi yang harus aku perbuat
padahal tangan dan kakiku terbelenggu

apalagi yang mesti aku katakan
padahal mulutku tersumpal

apalagi yang bisa aku tulis
sedangkan kertas dan tinta dijatah

akupun tidak punya hak untuk itu

aku hanya bisa tercenung
menyaksikan darah dan air mata
mengalir deras bagai lahar Merapi
dan tulang-tulang berserakan

sampai akhirnya
aku melihat sendiri darahku bercucuran
dan satu persatu tubuhku terlepas

aku ………..,
ah …………,
Selamat tinggal penindasan

bandung, 10 desember 1994
inspired by: cobain, grohl, novoselic

Catatan: Puisi ini aslinya tidak berjudul.
Dibuat dalam rangka memperingati hari HAM 10 Desember 1994
dan dipublikasikan atas nama Tabloid Mahasiswa BOULEVARD.

Di antara kita

Mei 19th, 2008

Di antara awan
tersembul pagi
menyapa setiap makhluk

di antara senyum
terselip kehangatan
mengharap kedamaian

tapi banyak kepala
dengan bentuk berbeda
hanya untuk sendiri
tak peduli siapa

di antara hujan
menetes kehidupan
mengapa bencana

di antara darah
larut dalam nafas
mengalir sunyi

semua kembali pada diri
bahkan daunpun butuh waktu
untuk jatuh dan menyatu dengan tanah

dari ceceran arsip 1996

Rangkaian Innerku

Mei 7th, 2008

diam
aku diam aku mampus
aku mampus dalam diamku
tak perlu semua bicara
tak perlu semua dengar
tinggal aku sendiri
diam sampai mampusku
mampus menuju diamku

23071998 22:47:12
***************************************

a k u
selamat tinggal burung-burung
aku menunggumu di perbatasan langit
selamat tinggal pohon-pohon
aku menunggumu di kerak bumi
pesta ini mungkin bukan untukku

24071998 03:34:04
***************************************

siklus
terseok-seok di kaki gunung
tenggelam di kawah sesampai di puncak
kutelusuri lekukan-lekukan lipatan bumi
menuju proses kelahiran kembali di ujung samudera

1998/10/05 19:23:43
***************************************

dari ceceran arsip 1998

Yang Termanis

Mei 5th, 2008

Yang Termanis I

Aku menangis untukmu
hasil karyamu masih terpampang di sudut itu
aku sendiri ragu
apakah aku sedang mengkhianati seseorang
padahal aku hanya terlambat berjanji
pernahkah kau menangis untukku?

***

Yang Termanis II

Mungkin terlalu cepat
tapi kenapa kau senantiasa mengirim utusan padaku
kau juga selalu memerintahkan angin untuk berbisik
sempurna
gelisah yang hampir sempurna

***

 Yang Termanis III

Selamat jalan, sayang
terima kasih atas puisimu
kini kau boleh melupakan aku
tapi datanglah kalau rindu

***

 Yang Termanis IV

Aku tahu kau tak bermaksud jahat
tapi mungkinkah kita bersahabat?
setelah apa yang kita jalani
manis
yang termanis yang pernah ada

***

Yang Termanis V

Kelembutanmu menggugah kesadaran
akan kehadiran benang-benang rasa
merajut relung hati
memaknai sebuah pemahaman
engkau adalah sanubari
yang hampir terlupakan

***

Yang Termanis VI

Tapi tak pernah kurasakan panasnya api
membakar dari dalam tanpa merusak apapun
sampai suatu saat kau harus melangkah
meninggalkan aku di ambang kesadaran baru
yang tersisa hanya kehangatan
dari sekian jawaban atas pertanyaan
yang tak pernah terlontarkan
maka terciptalah goresan luka yang panjang
indah memang
sekaligus mengalirkan darah yang setia memandikan aku

***

Yang Termanis VII

Betapapun jauhnya
aku masih merasakan dekatnya
betapapun mustahilnya
aku masih merasakan harapannya
betapapun pedihnya
aku masih merasakan senyumnya
dan betapapun pahitnya
aku masih merasakan manisnya
andai kau tahu
akibat dari kepergianmu yang begitu
lama!

dari ceceran arsip mei-agustus ‘98

Halaman Kosong (III)

Mei 2nd, 2008

(Ironi dan kebenaran dan cinta)

 

“Ironi” bukan nama artis. Apalagi nama seorang kiai yang punya sejuta umat. Ia hanya sesuatu yang sederhana. Ia memiliki saudara kandung bernama “ironis” yang senantiasa setia mewakili kehadirannya. Ironi senantiasa datang membawa kegetiran. Dan memaksa sekelilingnya menerima keapaan-keadaan. Begitu sempurna dalam karya yang dramatis fantastis. Jauh lebih dramatis daripada pemunculan imaji masa lalu dari Titanic, atau juga modernisasi kisah klasik Romeo & Juliet.

 

Aku sempat bertanya-tanya, apakah ironi bagian dari kebenaran, ataukah kebenaran adalah ironi? Suatu saat aku memperoleh pemahaman bahwa ironi adalah ironi dan kebenaran adalah kebenaran. Ironi tidak hadir pada saat kebenaran datang bahkan jika kebenaran itu datang bersama kepahitan.

 

Dan aku curiga bahwa ironi terbesarku adalah keangkuhanku akan sebuah kebenaran dari sebuah keyakinan mengalami kegamangan karena hantaman nilai-nilai yang lahir dari keyakinan tadi. Dan aku lelah sekali menempuh perjalanan itu. Bahkan untuk menangispun aku sudah tidak punya kemampuan.

 

Hidup harusnya bergejolak dalam gelombang kerumitan ketika dipikirkan dan berhembus di antara angin kesederhanaan ketika dijalani untuk kemudian menuju pada puncak kesempurnaan ketika sampai pada titik kematian. Seperti juga persoalan cinta yang sebenarnya sangat sepele bagaimanapun rumitnya orang tenggelam dalam lautan itu. Persoalan cinta adalah suatu hal. Titik. Tapi, cinta adalah sesuatu yang besar, agung dan suci. Yang aku belum mengerti adalah bagaimana menjalankan cinta. Bagaimana berpikir dengan cinta. Bagaimana mencintai dengan cinta.

 

Terkutuklah orang-orang yang mencari atau mengejar cinta karena cinta tak bisa dimiliki sebagaimana cinta tak bisa diperjualbelikan. Cinta adalah sebuah kebenaran dan kebenaran patut dicintai. Dan aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa mungkin aku tidak pernah punya cinta selama ini. Maka relakanlah aku kawin pada umur 30-an dan senyumlah pada kematianku di usia 40-an. Tapi aku sendiri ragu punya kemampuan untuk itu karena aku sudah lama mati jauh sebelum aku hidup.

 

Aku hanya punya sedikit sisa kekuatan untuk menjadi lilin. Tubuh lilinku tidak sekuat obor yang membawa api pon. Cahaya lilinku tidak segemerlap danseterang cahaya api pon. Atau aku mungkin tak pantas untuk menjadi lilin.Aku bahkan tak memiliki kehormatan seekor kunang-kunang.  Aku mudah menguap, jauh lebih cepat dibandingkan embun di pagi hari.

 

Hitam adalah sebuah nilai sebagaimana putih adalah sebuah vonis. Yang lain berbaris dengan segala pemaknaan dan atau pembenaran. Tapi, kebenaran bisa datang dari siapa saja atau lewat apa saja. Kebenaran tidak terikat pada ada dan tiada. Aku ada karena aku ada. Aku tiada karena aku tiada. Ke-”ada”-anku tak berdimensi. Ke-”tiada”-anku tidak bermakna. Maka aku bukan kebenaran. Aku hanya sebuah kehampaan. Serpihan-serpihan kegelisahan yang tak pernah terwujud. Maka jangan bandingkan aku dengan seorang maestro yang mewujudkan masterpiece-nya dari goresan-goresan dan sapuan-sapuan.

 

Aku toh tak bisa menolak untuk di-”ada”-kan demi menjaga keseimbangan mayapada. Pen-”tiada”-anku pun hanya bagian kecil dari proses itu. Mungkin juga tidak. Karena, eksistensiku bukan sesuatu yang esensial. Maaf, aku bukan pesimis, aku hanya cenderung menolak kemapanan, yang terkadang juga
sempat, terpaksa, atau memang ingin menikmati kemapanan. Dan kekosongan bukan hal yang asing bagiku.

 

Aku adalah ironi.

 

dari ceceran arsip, juli ‘98

Halaman Kosong (II)

Mei 2nd, 2008

(Menjelang purnama berikutnya tatkala wajahmu mulai bermetamorfosis)

 

Duduk merenung beralaskan hamparan hijau yang tak rata
pohon-pohon besar berdaun lebat membisu dalam kekokohannya
sungguh tak pernah kusangka
halaman ini tumbuh sangat cepat
padahal aku yakin aku tidak tidur terlalu lama
atau memang aku yang tak pernah sempurna dalam pemahaman
adalah kesedihan yang mendalam
memikirkan kemungkinan bahwa selama ini aku tak pernah dilibatkan dalam proses komunikasi
mungkin juga aku ceroboh telah mengabaikan bibit-bibit itu
kini mereka semakin banyak
semakin kuat
semakin tinggi
dan berlomba-lomba mencapai langit
sementara mosaik raksasa itu tetap tergantung di sana
tahukah kau bahwa wajah agung itu mulai menangis?

 

Hujan
garis-garis panjang yang tetap setia menyambung kehidupan
ia lahir dari proses transformasi mutiara air mata
turun membawa amanat suci menumpang kereta sederhana dengan jendela kaca yang jernih
bahkan kedatangannya dilindungi payung hitam raksasa untuk mencegah kubah pengolah helium menguraikan kristal murni itu sebelum waktunya
tapi entah mengapa
terkadang kesadaran yang terhempas memaksanya menjadi bencana
maka air mata kembali berlinangan
dengan nuansa kesedihan yang menyayat
pekat memenuhi relung hati
sampai titik nadir dimana mata tak punya apa-apa lagi untuk diteteskan
dan kata-kata menolak menari di ujung lidah
sampai sudah aku pada puncak kebutuhanku akan kehadiranmu secara utuh

 

dan cukup
aku tidak meminta yang lebih
dengan sendirinya kau akan mengerti proses selanjutnya yang akan aku jalani untuk mengusir segala ketidakpastian dalam menghadirkan harapan
karena kenyataan adalah hasil dari pengelolaan harapan bagi mereka yang punya kemauan
dan resiko adalah bonus yang menantang bagi mereka yang rela melangkahkan kaki
tahukah engkau bahwa aku sering menangis untukmu?

 

Sempat aku tangkap sekilat isyarat perubahan
tapi sejak awal tabir keraguan telah membayangi
sementara aku tetap mencoba untuk melangkahkan kaki di dua sisi yang berbeda
aku bahkan terpaksa berjalan dengan satu kaki ketika aku merasakan bahwa kaki yang lain mulai meninggalkan pijakannya

 

aku sama sekali tidak menyalahkanmu
lihatlah kearahku
kau tak akan bisa melihat bayanganku saat ini
bilur-bilur cahaya matahari yang berada tepat di atas kepalaku bagaikan pasungan jeruji besi yang tak memberi aku ruang gerak sama sekali

 

percayalah
aku rela menjalani hukuman ini
tak perlu menangis untukku
sudah terlalu banyak air mata yang mengalir sia-sia
dan suatu saat kesia-siaan hanya masa lalu
setiap butir yang kau titikkan akan mampu menawarkan kepahitan dan menghilangkan jejak goresan yang tertinggal
ini hanya saat-saat dimana aku tidak memerlukan perlawanan
tapi kepasrahanku bukan berarti penyerahan
tahukah kau bahwa aku siap menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu?

 

Perjalanan
rangkaian peristiwa dalam suatu garis panjang
ketika peristiwa adalah jalinan perjalanan untuk menyambungkan titik-titik kemanusiaan
untaian benang yang tergantung di langit
datang dari masa lalu yang siap mengikat apa saja yang menyatakan dirinya sebagai makhluk
meliuk cepat di permukaan bumi yang memantulkan gelombang terpendek cahaya tunggal kehidupan

 

samar di kejauhan
sepotong wajah pucat bergerak ragu
gelisah dalam penantian proses pengosongan tahta
dia sangat memahami tak lama lagi kekelaman akan membantunya mencapai puncak kekuasaan
yang tak mereka pahami bahwa pergantian ini hanya sekedar bagian dari
rutinitas keseimbangan dimana keutuhan adalah harga yang tak bisa ditawar-tawar
seperti juga dirimu yang selama ini menjadi bagian dari keseimbangan dunia yang aku diami
senantiasa menghadirkan bayanganmu dalam imaji yang tak pernah tersentuh hembusan realita
berputar bersama kincir kebingungan dan ketakutan
sementara stabilisasi seolah enggan mencapai puncaknya

 

sempurna sudah kegelisahanku memandang sabit cahaya yang menampilkan citra dirimu dalam bentuk yang berbeda-beda
keterbatasan daya pikirku melengkapi kegagapanku mengolah informasi untuk menjawab apa yang sedang terjadi pada dirimu
tapi sebenarnya semua menjadi jelas
pemihakan adalah awal dari segalanya
yang kau sajikan adalah pantulan frekuensi yang bias dalam perjalanannya
bobot interaksi memancarkan gelombang yang mengalami perubahaan amplitudo di sana-sini

 

dan kelemahan ini adalah hal yang harus diakui
karena kematanganku telah dihancurkan oleh kebanggaan yang salah kaprah
rasa yang kujaga selama ini megap-megap oleh tatapanmu yang penuh harapan
menambah kepedihan luka yang tergores kepergianmu
menemani ketakutan akan kehilangan dirimu

 

aku tahu kau belum lupa bahwa metamorfosis adalah hak kupu-kupu
maka kembalilah pada kesahajaanmu yang dulu menuntunku untuk memulai langkah pertama
karena aku khawatir tak mampu lagi melihat pepohonan yang mulai kering karena ditinggalkan daunnya sambil menunggu saat terakhir ketika sang akar tak mampu lagi menyedot sari-sari makanan dalam tanah
bersabarlah
masih ada waktu untuk mengganti pohon-pohon hiasan itu dan mengembalikan
keindahan yang kita patri dengan ketulusan
tahukah engkau bahwa pohonku makin bercabang?

 

tapi aku tetap menunggumu
di sini di purnama berikutnya

 

dari ceceran arsip, juni ‘98

Halaman Kosong (I)

April 30th, 2008

(Halaman kosong dimana aku merindukan tempat bermain)

Kepalaku tertunduk
otot-otot di leher ini tak sanggup lagi menahan segala
macam beban yang berkoloni tak teratur
bukan silau oleh tatapan matahari
aku tahu aku tak akan beradu pandang lagi dengannya
atau mungkin aku harus menunggu sang purnama dalam
penampakannya yang bulat sempurna diselimuti oleh sulaman
tanpa cacat dari benang-benang pantulan cahaya mentari
tapi siapa yang bisa menjamin bahwa awan-awan tak akan
melakukan kolaborasi baru serta menjalin aliansi untuk
menggalang mendung
karena tak seorangpun mampu menebak seberapa besar kekuatan
yang bisa digerakkan dan akibat yang akan ditimbulkan

aku mengerti aku tak berhak curiga
sebagaimana aku mengerti bahwa tak seorangpun wajib
melarangku untuk berhati-hati
yang jelas pohon yang baru tumbuh itu tak dapat kujadikan
tempat berlindung, minimal saat ini
pohon satu-satunya yang tak ragu menunjukkan eksistensinya
di halaman kosong ini

Kosong tak sepenuhnya kosong
kelincahan dan keriangan seorang anak kecil yang bermain
layangan menyadarkan aku akan pengisian ruang dan
pemakaian waktu
didukung oleh kekuatan alam dan segenap unsur dan elemennya
yang siap menjaga keseimbangan tanpa mengabaikan keutuhan
perlahan tapi pasti layangan mulai menapaki udara
bergerak di kawal oleh sekelompok burung yang berkicau dengan semangat
selaras dengan semangat si anak kecil yang terus memainkan
layangan dengan jiwa tanpa dosa
kemahirannya menarik dan mengulur benang menjadi pandangan
tersendiri di samping kenyataan bahwa itulah kekuatan yang
menggerakkan layangan
kekuatan yang menyebarkan perbawa dan mampu menutupi
ketidakpeduliannya terhadap sekeliling

memang
bukan kesalahan kalau ia tidak peduli
bahkan kepadaku
toh tidak menghalangi aku untuk mengira-ngira akhir
perjalanan sang layangan
mungkin pada akhirnya dia mampu mengejar matahari
atau melayang tak terkendali karena ujung benang di bawah
sana sudah tidak terpegang lagi
atau malah layangan itu yang lalu berasimilasi dengan
cakrawala untuk menyalurkan kekuatan baru yang segar untuk
membawa si anak kecil terbang ke angkasa
ah
mengingatkan aku pada impian untuk memungut bintang
bermain melompat-lompat di tangga langit
membelaikan diriku pada awan-awan putih

langit kini kian menampakkan potensinya
birunya yang lembut tidak saja menyejukkan pandangan bagi
siapa saja yang menengadahkan kepala
tapi juga menjadi latar belakang yang sempurna bagi sebuah
lukisan raksasa di atas sana
lukisan yang begitu hidup dan terus bergerak
seolah terus mencari dan mencoba komposisi bentuk dan ruang
dengan segala kemungkinan penempatan dan sudut pandang
tak terkecuali sang layangan yang tak pernah jemu bergerak
jaraknya yang terlalu jauh dengan segala perangkat
penglihatanku hanya menghasilkan sebuah titik kecil yang
terus bergerak mengisi ruang
dan semakin jelas terlihat bahwa pergerakan itu membentuk
pola dan konfigurasi tertentu
sungguh luar biasa bahwa semua itu digerakkan oleh kelincahan
dan kemahiran si anak kecil yang dengan penuh keriangan
bermain di halaman yang kosong ini

Aku yakin tak seorangpun ingin hidup dengan hati yang kosong
aku sudah di sini
hanya sejenak aku butuhkan untuk memulihkan semangat
dan kekuatanku
kamu pasti tahu bahwa fotosintesis telah menjadi rangkaian
kehidupan untuk memberi peluang bagi yang lain untuk
bertahan
maka ke pohon itulah aku beranjak
menandatangani sebuah kontrak kerja sama dalam kerangka
mutualisme
aku hanya minta barang sebentar saja kesempatan padamu untuk
menjadi bagian dari proses pertukaran dan pengolahan
karbondioksida dan oksigen dan air
aku berjanji akan membawakan sesuatu untukmu

jangan takut pada kecoklatan daun-daun yang melayang jatuh
ke tanah
mereka tidak benar-benar berpisah dari pohonnya
mereka hanya memasuki sebuah wilayah baru dengan fungsi dan
tugas yang baru pula
jangan khawatir pada kepucatan hijau daun-daun yang baru
tumbuh itu
pada saatnya nanti mereka akan siap berdiri di garis depan
juga tak perlu curiga berlebihan pada mendung
hujan yang dihasilkannya mungkin mampu memulihkan tenaga yang
selama ini terkuras
atau menyembuhkan luka yang selama ini terkoyak
atau meriangkan kegelisahan yang selama ini membuncah
atau mungkin menyapu bersih segala yang harusnya pergi
sampah kesengsaraan
kotoran kelaparan
atau noda kebodohan

lihat
seperti aku katakan tadi
semangatku telah pulih
kekuatanku telah datang
lihat, lihatlah di atas sana
telah kukumpulkan serpihan-serpihan awan
dan terciptalah sebuah mosaik
setiap titik dan garis yang membentuk karakter wajahmu ada
di sana
seperti juga senyummu yang tak pernah bosan mengikuti
kemanapun aku pergi

dan ketika Sang Kelam* datang dengan piranti pewaktuannya
untuk mewartakan pergantian
aku akan datang padamu dan mengucapkan sebaris selamat malam
kau berhak atas kesempatan untuk memiliki sebagian hari esok
tidak masalah kau mau memastikannya atau tidak
yang jelas dia akan tetap mendefinisikan bentuknya
mungkin juga untuk tetap menjaga keseimbangan
di halaman kosong ini

Catatan: *Tokoh dalam naskah “Kapai-Kapai” karya Arifin C. Noer.

dari ceceran arsip, mei ‘98

Posting pertamaku di dagdigdug.com

April 17th, 2008

Tertarik juga ternyata untuk membuka celana, eh maap, maksudnya warung kata-kata di dagdigdug.com. Maka inilah posting pertama gw. Gw belum tau akan mengisi dengan konten macam apa di sini, wong blognya aja “belum ada judul” kok. BTW, salut dan thanks buat tim dagdigdug.com atas kerja kerasnya. Sudah selayaknya tim yang di dalamnya ada Bapak Blog Indonesia menjadi pelopor penyedia layanan blog (meskipun bukan yang pertama-tama banget). Mudah-mudahan dagdigdug.com dan timnya terus berjaya!